Majalah Charlie Hebdo, Prancis, kembali menjadi pemberitaan media
internasional setelah terjadinya serangan tiga orang bersenjata ke
kantor redaksinya, Rabu (7/1/2015) kemarin.
Serangan itu
mengakibatkan tewasnya 12 orang, di antaranya seorang kartunis senior,
Stephane Charbonnier, yang telah bekerja sebagai redaktur majalah ini
sejak tahun 2012.
Dari beberapa keterangan, diketahui bahwa
motivasi serangan bersenjata api yang dilakukan tiga orang itu, adalah
balas dendam karena majalah tersebut menghina keyakinan mereka.
Sementara,
L’Agence France-Presse (AFP), melaporkan bahwa para pelaku berteriak,
“Kami telah membalas dendam untuk Rasulullah.” Sebuah rekaman video
amatir yang diambil dari atas gedung terdengar teriakan “Allahu Akbar..
Allah Akbar” di antara letusan senjata api.
Pada tahun 2011,
media-media di Eropa menyebut istilah Syariah Pekanan (Charia Hebdo).
Saat itu, Majalah Charlie Hebdo menyebabkan kemarahan luas umat Islam di
Prancis dan juga di beberapa negara Islam, setelah publikasi gambar
kartun yang menghina Rasulullah saw.
Pada tahun 2012, Charlie Hebdo juga berkali-kali memuat gambar kartun yang menghina umat Islam, di antaranya dengan gambar lelaki telanjang yang mereka katakan sebagai Rasulullah saw.
Gambar-gambar itu dimuat menyusul rangkaian
serangan ke beberapa kedutaan besar di beberapa negara Timur Tengah,
setelah dirilisnya film Innocence of Muslims. Saat itu, Prancis juga
menutup beberapa kantor kedutaan, sekolah dan pusat kebudayaan Prancis
di 20 negara Islam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar